changminnie playlist

Kamis, 02 Juni 2011

Merenung Sampai Mati - PESAWAT JATUH

     Banyak pesawat jatuh belakangan ini. Akan tetapi, banyak benarkah? Tidak, tidak banyak. Kata "banyak" hanya berasal dari persepsi manusia yang keliru, yang menganggap pesawat harus selalu tidak bisa jatuh. Padahal, siapa yang bermain di ketinggian harus siap jatuh. Jadi, kodrat pesawat adalah "jatuh" sebagaimana manusia hisup harus mengenal kematian.

     Memaksa pesawat untuk terus-menerus terbang selamat sama halnya dengan memaksa manusia untuk terus-menerus hidup. Semua manusia boleh menjadi dokter, tetapi kuburan tetap harus disiapkan karena dokter pun harus mengenal kematian. Jadi, Pesawat jatuh tak harus selalu berhubungan dengan maju-mundur teknologi, tua-muda umur mesin, dan baik-buruk cuaca.

     Ketika banyak jalan diratakan, tabrakan justru sering terjadi. Ketika teknologi dimajukan, kecelakaan juga tak berhenti. Jadi, kecelakaan adalah persoalan yang berdiri sendiri. Ia datang kapan saja ia mau dan pergi jika perlu.

     Manusia hanya berhak memperkirakan kecelakaan, sementara "sang celaka" selalu selangkah di depan sehingga tak heran, sebuah musibah gampang memunculkan komentar, "Benar-benar tak saya duga!" atau "Saya tak pernah meramalkannya!" malah mungkin ucapan yang sedikit berbau klenik,"Saya tak punya firasat apa-apa!"

     Teknologi lahir hanya untuk mengenal meramal dan menduga-duga. Memang, ramalan itu terkadang begitu canggih dan mendekati kemutlakan. Namun, si dekat dan si mutlak tetaplah dua pihak yang berbeda. Seorang bawahan boleh saja dekat dengan atasan, tetapi tak otomatis ia boleh menjadi atasan.

     Kedekatan itu memang bisa mendatangkan wibawa "pinjaman". Namun, seperti jamaknya peminjam, ia harus mengembalikan. Kudhung lulang macan, kata orang Jawa menyindir wibawa pinjaman ini. Padahal ilang kudhunge ketok asline, begitu bunyi akhir ungkapan.

     Sudah saatnya manusia mengubah gaya saat naik pesawat. Tak ada jeleknya membayangkan pesawat sebagai peti mati massal. Ketika pesawat take off, pramugari harus mengumumkan bahwa simulasi kematian sedang dimulai.

Stop berbicara soal rekreasi, bisnis, atau sekedar pamer going abroad. Tak perlu pula melengkapi pesawat dengan telepon, faksimile, head phone, dan televisi mini. Hal-hal semacam ini hanya membuat penumpang gampang tertipu oleh keamanan semu dan lupa berfantasi tentang kematian.

     Usul ini bukan tanpa alasan. Lihat saja bagaimana di ketinggian puluhan ribu kaki "kita-kita" ini masih tega berbicara soal karier, jabatan, dan masa depan. Padahal, hanya beberapa inci di luar jendela udara bisa mencapai minus 60 derajat Celcius! Kalau ada penumpang usil memecah jendela darurat, baru terbukti betapa semua tetek bengek fantasi itu tak lebih dari soal remeh.

     Penumpang pesawat harus dilatih melihat teka-teki di sekitarnya. Dibandingkan dengan langit luas, betapa sebesar titik pun pesawat itu tidak ada. Ketika mengapung di langit bebas, kematian adalah sesuatu yang dekat dan logis.

     Yang tidak logis justru keselamatan yang datang berkali-kali itu tak pernah kita sadari. Hal ini karena, lagi-lagi pesawat itu hanya titik bagi langit luas, hanya kapas bagi angin keras. Keajaiban yang asli mestinya bukan Borobudur, Taj Mahal, Menara Eiffel, Pisa atau Tembok Cina. Semua itu kalah menakjubkan dibandingkan dengan pesawat yang tengah mendarat. Namun, betapa lumrah kita menganggapnya. Makin sering dan banyak pesawat yang mendarat, kita makin tidak heran dibuatnya. Coba saja, seandainya suatu saat alam ini sewot dan membalik rumus keajaiban menjadi: Semua pesawat yang terbang harus tidak selamat!

     "Baru manusia akan menyadari bahwa melihat pesawat mendaratadalah melihat keajaiban," ujar alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar